Indonesia

Semangat Generasi Milenial Lawan Hoax Agar Terciptanya Persatuan Bangsa Demi Suksesnya Pembangunan Nasional

Oleh : Yuda Pratama

Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. (Wikipedia, n.d.). Realita saat ini berita hoax semakin menyerbu internet terlihat dari hasil survey tentang Wabah hoax Nasional oleh Mastel (2017), bahwa saluran penyebaran berita hoax tiga tertinggi berasal dari media sosial berupa facebook pada urutan tertinggi 92,40%, aplikasi chatting 62,80%, dan situs web 34,90%. Berita hoax sendiri lebih condong membawa dampak negatif daripada dampak positif. Bramy Biantoro (2016) menyebutkan ada empat bahaya yang ditimbulkan dari berita hoax, yakni hoax membuang waktu dan uang, hoax jadi pengalih isu, hoax sebagai sarana penipuan publik, serta hoax sebagai pemicu kepanikan publik. Dilansir dari berbagai sumber, ada beberapa macam isu hoax di antaranya terkait agama, permasalahan sosial, politik, serta yang menggeret suatu corporate seperti Sari Roti bagi-bagi gratis, Sari Roti yang berganti nama jadi Roti Garmelia, minuman White Coffee mengandung babi, Sikat Gigi Oral B mengandung bulu babi, Isu uang baru Indonesia yang dikabarkan mencantumkan logo palu arit padahal itu tanda roctoverso. Dari sederet contoh di atas menunjukkan kebebasan penyajian informasi bukan lagi dari kalangan jurnalis melainkan juga di tangan para netizen.

Pemerintah sudah mengambil sikap tegas terhadap penyebaran hoax dengan mengeluarkan beberapa pasal diantaranyaa Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial. Namun kenyataannya pasal tersebut tidak mampu untuk menurunkan penyebaran hoax. Pemblokiran berita hoax dengan jumlah yang sangat besar berbanding terbalik dengan beberapa yang di tangkap. Maka perlu peran generasi milenial untuk membantu pemerintah dalam memerangi hoax karena kebanyakan pengguna medsos adalah generasi milenial. Adapun langkah yang dapat dilakukan generasi milenial adapun sebagai berikut

  1. Membuat Seminar Atau Gerakan Anti Hoax

Generasi milenial adalah  generasi muda yang cerdas dan kritis. Partisipasi generasi milenial dalam memberantas hoax dengan membuat seminar anti hoax. Generasi muda khususnya mahasiswa perlu bekerja sama dengan berbagai pihak teruataa kampus sebagai tempat berkumpulnya kaum intelektul dalam memberantas hoax ajaklah dosen, dan civitas kampus untuk memberantas hoax. Seminar dilakukan untuk memberitahu kepada seluruh semua orang bahayanya hoax dan bagaimana cara mengatasinya.

  1. Kampanye Anti Hoax.

Generasi muda milenial yang melek politik harus terjun ke jalan-jalan menyebarkkan brosur, memasang spanduk, ketuklah setiap rumah untuk memberikan brosur untuk memberantas hoax gunakan toa teriakan aksi sebagai aktivis dalam memerangi. Bahkan kapan perlu generasi milenial ini harus bekerja sama dengan pemerintah seperti kepolisian dan KPU untuk memberantas hoax.

  1. Mereport Akun penyebar

Tindakan nyata generasi milenial dalam memberantas hoax tidak hanya di dunia nyata. Di dunia maya pun generasi muda harus bergerilya memberantas hoax dengan me-report akun-akun penyebar hoax kapan perlu melaporkan akun tersebut ke divisi humaspolri atau Bawaslu.

  1. Mengklarifikasi Berita Hoax.

Sebagai pengguna media sosial yang aktif generasi milenial perlu mengklarifikasi dengan membuat akun khusus untuk mengklarifikasi berita hoax yang beredar melalui media sosial facebook, twitter, instagram, dan group whatsapp. Lebih baiknya lagi membuat komunitas khusus anti hoax di media sosial demi terwujudnya Indonesia aman.

Banyak orang berpikir bahwa dampak hoax tidaklah terlalu besar. Hal ini tentu saja salah kalau bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan tsunami hanya dapat menghancurkan sebuah daerah maka hoax dapat menghancurkan negara. Kenapa bisa demikian? Karena dari hoax bisa menimbulkan kebencian, tidak saling mempercayai daan saling tuduh-menuduh. Contohnya saja berita hoax tentang Presiden Indonesia seorang PKI berita Hoax ini menimbulkan kebencian kepada presiden dan sikap tidak mempercayai presiden. Akan jadi apa negara ini jika tidak ada sikap saling mempercayai. Hoax juga dapat memecah belah persatuan bangsa dan negara contohnya hoax tentang sebagian kelompok orang yang akan membangkitkan PKI dan terindikasi PKI hal ini menyebabkan sebagian orang anti PKI akan menentang hal itu dan menolak mereka.

Tidak hanya itu hoax juga bisa menimbulkan sikap rasisme. Contohnya ketika beredar berita hoax bahwa Indonesia akan dikuasai China maka timbullah sikap rasis kepada kaum bermata sipit dan berusaha menjegal agar mereka tidak menjadi pemimpin. Padahal dalam hal demokrasi semua orang memiliki hak memilih dan dipilih. Untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa agar suksesnya pembangunan nasional maka hoax harus dinetralisir. Maka dalam rangka kemerdekaan republik Indonesia ini peran generasi milenial dalam memberantas hoax sangatlah penting mengingat mereka paling berjibaku pada media sosial. Walau pun pemerintah sudah melakukan perlawanan terhadap hoax dengan mengeluarkan beberapa pasal untuk menghentikan peredaran hoax.

Hoax memang seperti monster yang bisa menghancurkan apapun. Hoax bisa membuat orang bermusuhan dan hoax juga bisa membuat perpecahan. Di saat negara lain sibuk membangun negaranya sementara negara kita masih sibuk membahas hoax akan terkuras energy negara ini untuk mengurus hoax. Maka sudah selayaknya generasi milenial angkat pedang untuk memberantas hoax. Agar pemerintah fokus untuk membangun negara agar suksesnya pembangunan lima tahun kedepan. (*)

Leave a Response