Indonesia

Menolak Lupa Prabowo dan Tragedi Kampung Janda

Jakarta – Peristiwa pembantaian di Timor Timur menjadi salah satu kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Sosok Prabowo Subianto diduga terlibat dalam peristiwa yang terjadi tahun 1983 tersebut.

Menurut sejumlah sumber, Prabowo punya andil dalam pembunuhan-pembunuhan di bagian timur Timor-Leste termasuk pembunuhan membabi buta di Kraras itu.

Kraras adalah sebuah kampung di Timor-Leste disebut sebagai ‘kampung janda’ dikarenakan di bulan September 1983 hampir semua laki-laki termasuk anak-anak laki di kampung itu dibunuh. Beberapa orang melarikan diri ke hutan. Saat ditangkap atau menyerah mereka dipaksa tinggal di sebuah tempat di Kraras bernama Lalerek Mutin dimana banyak yang mati kelaparan.

Terungkap bahwa Prabowo yang pada saat itu masih berpangkat kapten bertindak tanpa seizin pimpinannya dan memimpin pasukan untuk menghabisi penduduk sipil di Kampung Kraras Timor Timur. Prabowo bertindak sewenang-wenang dengan menyalahgunakan posisinya sebagai anak mantu Soeharto untuk melegalkan dan membenarkan segala tindakannya di masa lalu.

Watak dan sikap ini tidak pantas dimiliki oleh seorang pemimpin karena hanya akan menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat.

Mantan Gubernur Timor Timur, Mario Carrascalao mengakui bahwa Prabowo menjadi pimpinan pasukan dalam aksi pembantaian hampir semua laki-laki termasuk anak laki-laki di Kampung Kraras, Timor Timur, pada September 1983.

Menurut Mario, yang waktu itu menjabat sebagai gubernur Timor-Timur, semua kejadian itu dilaporkan oleh orang-orang Timor dan pihak militer kepadanya. Pada saat itu Komandan Kodim di Viqueque adalah Mayor Hidayat dari Kopassandha yang kemudian menjadi Bupati Viqueque.

Mereka yang ditangkap atau menyerah dipaksa tinggal di sebuah tempat di Kraras bernama Lalerek Mutin, dimana diperkirakan sebagian besar orang meninggal akibat kelaparan dan penyakit. Para perempuan setempat dilecehkan secara seksual oleh tentara Indonesia pada saat itu.

Sementara itu, mantan Komandan Korem Dili, Kolonel Purwanto mengungkap, sejak awal pihaknya mencurigai tindak tanduk Prabowo yang ditugaskan untuk ketiga kalinya di Timor Timur. Menurutnya, Prabowo berpikir baik saat penugasan pertama dan kedua, tetapi setelah itu ia kehilangan kontrol.

Beberapa sumber menyatakan kepada Komisi untuk Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (CAVR) bahwa Prabowo terlibat dalam operasi untuk membawa penduduk sipil turun dari Gunung Bibeleu, dimana tidak lama kemudian beberapa ratus orang dibunuh. (dewemcf)

Leave a Response