Indonesia

Door To Door, Emak-Emak Prabowo Sebar Fitnah PKI

JAKARTA – Belum lama ini, di media sosial viral dengan konten video door to door oleh kelompok emak-emak relawan paslon Prabowo-Sandiaga, terhadap masyarakat agar jangan golput karena jika suaranya tidak digunakan akan dimanfaatkan orang jahat dan Indonesia kembali dipimpin PKI.

Hal tersebut merupakan tindakan pembodohan dan pemaksaan terhadap kebebasan masyarakat dalam memilih sekaligus secara tak langsung mendiskreditkan seorang Presiden.

Bangsa Indonesia akan menghadapi puncak pesta demokrasi yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tahun 2019 ini. Jelang ajang kontestasi 5 tahunan tersebut, masyarakat Indonesia dituntut untuk mewaspadai beragam upaya propaganda politik dan kampanye hitam yang sangat rawan digunakan sebagai alat untuk meraih ambisi kekuasaan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan dua pasangan capres dan cawapres pad atahun 2018 silam yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai paslon dengan no. urut 01 dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang ada saat pengundian mendapat no urut 02.

Masing-masing paslonpun beserta tim suksesnya melakukan kampanye untuk meraup suara pemilih sebanyak-banyaknya. Namun, sayangnya, ajang kontestasi tahun ini ternyata diwarnai juga dengan kampanye hitam atau black campaign yang gencar dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandiaga.

Sebelumnya juga banyak video yang beredar tentang emak-emak relawan Prabowo yang melakukan kampanye terselubung dengan cara berjalan dari pintu ke pintu dan memaksa warga untuk memilih paslon 02.

Pada kenyataannya, isu PKI adalah isu yang sudah basi dari mentoknya strategi selain rencana penerbitan kembali tabloid provokatif Obor Rakyat. Kubu Prabowo-Sandiaga ‘miskin ide’ dan sudah kehabisan gagasan.

Sampai disini, kita semua paham bahwa ambisi pemenangan sedang dilakukan. Masyarakat harus lebih cerdas dan mengerti untuk menjauhi tipikal paslon yang belum terpilih saja sudah gemar ber- black campaign, apalagi jika nantinya terpilih. Tak hanya PKI namun mbahnya PKI yang mungkin akan terjadi di sistem kepemimpinan Indonesia.

Berkampanye dengan menggunakan cara kotor dan menebar ketakutan untuk mendapatkan simpati masyarakat tanpa memikirkan dampak terhadap black campaign itu sendiri, semuanya itu karena haus akan kekuasaan. Padahal, cara tersebut berpotensi menciptakan saling curiga, keresahan dan perpecahan di masyarakat.

Setiap warga negara memiliki hak dalam mendukung dan memilih pasangan capres-cawapres. Berbeda pilihan itu wajar sehingga jangan sampai ada tekanan atau intimidasi yang dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan bangsa.

Politik retorika dan black campaign yang kerap dimainkan oleh kubu Prabowo-Sandiaga bisa membuat suhu politik semakin memanas dimana sebenarnya rakyat Indonesia menginginkan pesta demokrasi yang aman dan damai. Sebaiknya masyarakat menjauhi oknum-oknum yang gemar melakukan hal-hal seperti itu karena hanya akan semakin memundurkan demokrasi di Indonesia. (dewmcf)

Leave a Response