Indonesia

Demi Menjaga Keamanan Nasional, Peserta Pemilu Harus Siap Menang dan Siap Kalah

JAKARTA – Jelang pemilu, persaingan antara kandidat, tim sukses dan simpatisan semakin kuat, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai politik identitas serta simbol – simbol keislaman. Gerakan atas nama organisasi Islam juga cukup marak menjelang pemilu. Muhaimin Iskandar mengatakan bahwa dinamika keislaman yang terjadi pada tahun politik ini masih cukup kondusif. Asal tidak terjadi pendangkalan dan kekeringan politik. Dalam hal ini tidak takut kalah dan tidak takut menang. Kedua belah pihak, baik yang menang ataupun yang kalah, harus mampu menahan diri agar tidak menimbulkan ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif juga meminta kepada para politikus yang bersaing dalam kontestasi pemilu 2019 untuk siap kalah dan siap menang. Meski demikian, Buya melihat bahwa kondisi politik yang berkembang saat ini cenderung mencerminkan bahwa para politikus tidak memiliki kesiapan untuk kalah pada pemilu mendatang.

“Ini nampaknya kan tidak, menang siap, tetapi kalah enggak siap. Jadi, yang benar itu kedua – duanya siap,” tutur anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Dirinya juga menambahkan, bahwa sistem demokrasi yang dianut Indonesia adalah sistem yang mendidik setiap orang untuk bersabar. Apabila tidak suka dengan seseorang atau rezim pemerintahan, maka bersabar dan menunggu dengan tidak memilihnya lagi pada pemilihan berikutnya.

“Itu baiknya sistem demokrasi dengan segala kelemahannya,” tutur Buya.

Situasi yang memanas jelang pemilu 17 April 2019 merupakan hal yang lumrah, asal tidak diiringi dengan adu fisik atau gontok – gontokan yang dapat memicu perpecahan. Hal ini karena mengacu pada sila ke tiga yaitu persatuan Indonesia, yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari – hari, jangan sampai hanya karena berbeda pilihan, rasa persaudaraan menjadi renggang.

“Kan berebut ya, kekuasaan itu memang ganas, tetapi sesungguhnya kekuasaan yang dipimpin dengan acuan moralnya,” pungkas Buya Syafii Maarif.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua KPU Arief Budiman berharap kepada seluruh penyelenggara pemilu 2019 agar dapat menuntaskan tugasnya secara profesional transparan bertanggung jawab dan berintegritas.

“Pesan kepada seluruh penyelenggara pemilu untuk menuntaskan tugasnya dengan tetap berpegang pada prinsip kerja yang profesional transparan, bertanggung jawab dan integritas.” ujar Arief.

Kepada seluruh peserta pemilu, Arief juga mengingatkan agar tidak lagi melakukan kegiatan kampanye pada masa tenang. Sementara kepada para pemilih, KPU juga menyerukan agar dapat ikut berpartisipasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara serta rekapitulasi hingga penetapan hasil pemilu secara nasional.

“Dalam setiap kompetisi harus siap menang dan kalah. Kita semua berharap agar semua pihak bisa menjaga ketenangan dan kedamaian. Selesaikan persoalan yang terjadi di ruang – ruang yang telah ditentukan dalam peraturan undang – undang. Pemilih berdaulat negara kuat,” pungkasnya.

Pernyataan siap menang dan siap kalah di Nduga, Papua juga sepertinya patut dicontoh, dimana 16 partai politik di Kabupaten Nduga menyatakan siap menang dan siap kalah dalam pemilu 17 April. Hal tersebut dituangkan dalam deklarasi pemilu damai di Ibukota Kenyam yang diinisiasi oleh KPU Nduga. Ketua KPU Nduga, Ocla Nirigi mengakui bahwa tujuan dari deklarasi pemilu damai ini agar para peserta pemilu siap untuk menang dan siap untuk kalah. Mereka juga harus menjaga pelaksanaan pemilu ini dengan baik dan menghimpun warganya untuk tidak golput dan tetap menggunakan hak pilihnya.

Deklarasi tersebut juga mendapatkan apresiasi dari Wakil Bupati Nduga Wentius Nimiangge yang sangat mendukung proses pelaksanaan deklarasi pemilu damai tersebut. Sebab, menang kalah itu biasa, sehingga ia meminta kepada parpol jika berpikir untuk membuat masalah lebih baik tidak bergabung dalam pemilu.

“16 Parpol harus siap menang dan siap kalah, saya sudah saksikan 15 parpol menandatangani deklarasi tersebut,” ungkapnya.

Meski Nduga merupakan kawasan ‘merah’, tetapi pemilu harus berjalan dengan aman. Ia juga mengajak kepada warganya untuk menyukseskan pemilu agar kesan warna ‘merah’ mulai membaik di mata masyarakat.

Siap menang dan siap kalah, merupakan sikap legowo yang harus dimiliki oleh siapapun yang akan berkompetisi, kalah bukan berarti tidak bisa berperan serta dalam membangun bangsa, dan jika menang bukan berarti terhanyut dalam euforia politis, karena ada beban amanah dari rakyat yang harus diperjuangkan.

Oleh : Ibrahim Waluyo, Pengamat Masalah Politik

Leave a Response